Friday, 17 February 2017

Haruskah Celana Di Atas Mata Kaki (Cingkrang) ?

Haruskah Celana Di Atas Mata Kaki (Cingkrang) ?

Oleh : Ust. Adi Hidayat, Lc, MA
Memakai celana sampai di bawah mata kaki (bagi pria) atau lebih dikenal dengan ‘isbal’ memiliki penjelasan khusus. Para ulama memang berbeda pendapat dalam masalah isbal. Ada yang membolehkan celana di bawah mata kaki dengan syarat tidak sombong. Ada pula yang berpendapat memang harus di atas mata kaki dengan memahami hadits secara zhahirnya melarang. Karena dengan menjulurkan pakaian/celana melebihi mata kaki dengan sengaja sudah termasuk sombong. Dewasa dalam menyikapi perbedaan pendapat merupakan jalan terbaik untuk menjauhi perpecahan umat Islam.

Link video di You tube klik di sini

video


Demi Ahok, Pendeta Syiah Tantang FPI & Muhammadiyah

Demi Ahok, Pendeta Syiah Tantang FPI & Muhammadiyah

Jika ingin melihat karakter seseroang maka lihatlah dengan siapa ia berteman. Jika ingin melihat seperti apa suatu kelompok atau ajaran, maka lihatlah dengan siapa mereka berafiliasi.

Pengikut agama Syiah sedari dulu dikenal dengan ideologinya yang akrab dengan orang-orang kafir dan memusuhi Islam. Syiah dikenal sebagai orang-orang yang bersahabat karib dengan orang nasrani maupun yahudi.

Adalah Imam Syiah Rafidhah, M. Tawhidi, beberapa hari yang lalu menyatakan bahwa ia sangat mendukung Gubernur DKI Jakarta, Ahok, sang penista agama Islam. Dalam akun twitter miliknya, Tawhidi bahkan menantang ulama FPI dan Muhammadiyah untuk berdebat dengannya soal tafsir Al Maidah ayat 51.

"I'm willing to debate all FPI & Muhamadia Ulama on the Quranic Verse Al Ma'idah 51. They have no knowledge at all. #SaveAhok #Voteahok" tulis Shaikh M. Tawhidi, dalam akun twitternya, @Tawhidicom, pada 15/2/17.

Sebagaimana diketahui bahwa Umat Islam di se-antero tanah air tengah berupaya mendesak Polri untuk lekas menghukum Ahok karena telah menista Agama Islam, dengan mengatakan surat Al Maidah:51 berbohong. (syiahindonesia.com)  



Berkaca dari Kisah Asnawi, Mampu Selesaikan Kuliah Sarjana Berkat Jual Gorengan Keliling

Berkaca dari Kisah Asnawi, Mampu Selesaikan Kuliah Sarjana Berkat Jual Gorengan Keliling

Di tengah kehidupan mahasiswa zaman sekarang yang serba canggih, ternyata masih ada mahasiswa yang menunjukkan kesederhanaan dalam kesehariannya. Adalah Asnawi, pemuda asal Bangka yang justru nggak pernah malu berjualan gorengan keliling untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup dan membiayai kuliahnya. Ia sama sekali nggak pernah terpengaruh dengan gaya hidup mahasiswa masa kini yang sibuk beraktualisasi diri lewat media sosial demi bisa eksis di lingkungannya.
Sebaliknya, pemuda mandiri yang biasa dipanggil Awi ini punya kemantapan hati untuk bisa menyelesaikan kuliah di tengah himpitan ekonomi keluarganya. Bertahun-tahun lamanya Awi menjalani kehidupannya sebagai penjaja gorengan, hingga kini ia telah berhasil meraih gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan meraih IPK 3,39 lewat perjuangannya tersebut. Mengharukan, ya?
Tahun 2006 adalah titik awal Awi untuk memulai usaha gorengannya. Waktu itu, ia harus mengesampingkan keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke SMA. Setelah lulus SMP, ia ikut kedua orang tuanya merantau dan berpindah-pindah tempat untuk berjualan gorengan.
Kesempatan itu datang pada tahun 2009, akhirnya Awi bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA. Meski usianya sudah bukan selayaknya untuk duduk di bangku SMA, Awi tetap bersyukur dan menjalani kesempatan itu dengan baik. Bahkan pada tahun 2010, ia dipercaya sekolahnya untuk mengikuti pogram pertukaran pelajar ke SMKN 7 Yogyakarta. Dari sanalah Awi berkeinginan untuk bisa kuliah di Yogyakarta.
Keinginannya untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Yogyakarta disambut baik oleh keluarganya. Berkat kemauan dan usaha kerasnya, cita-cita Awi akhirnya kesampaian untuk melanjutkan pendidikan di Yogyakarta. Ia diterima menjadi mahasiswa Jurusan Ekonomi di UMY dari hasil tabungannya berjualan selama ini.
Setelah diterima menjadi mahasiswa, Awi bertekad untuk lebih giat mencari penghasilan yang didapatnya dari hasil berjualan untuk bisa mencukupi kebutuhan dan juga membiayai kuliahnya. Untuk menjalani kegiatan kuliah dan berjualan, Awi pintar mengatur waktunya. Setiap hari ia harus bangun pukul 04.00 pagi untuk mulai menyiapkan bahan dagangan usai shalat subuh. Lantas Awi pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan dagangan dan meracik bumbunya sendiri. Pukul 06.45, ia harus sudah menyelesaikan persiapan dagangannya sebelum berangkat kuliah.
Sepulang kuliah pada pukul 12.30, Awi mulai membuat adonan gorengan lalu menjajakannya dengan berkeliling kampung hingga sekitar kampusnya. Sekitar pukul 18.00 Awi menyelesaikan jualannya dan kembali ke kost. Kemudian ia melanjutkan aktivitasnya dengan mengikuti perkuliahan malam. Sementara kalau nggak ada kuliah, waktunya ia gunakan untuk belajar atau mengerjakan tugas. Sebelum tidur, Awi sudah terbiasa menyempatkan diri untuk mengecek peralatan dagangannya. Di akhir pekan, ia meliburkan diri untuk refreshing dan beristirahat.
Pada semester ke-3, Awi mengaku sempat nggak kuat dan ingin menyerah. Waktu itu Awi belum berjualan gorengan, ia sempat berjualan pempek dan mie ayam tetapi nggak begitu laku terjual. Namun berkat dorongan orang tuanya, Awi kembali bangkit dan beralih usaha dengan menjual gorengan. Bersyukur, keuntungan rata-rata yang didapatkan Awi setiap harinya mencapai 300 ribu rupiah. Perlahan usahanya mulai naik, dari hasil keuntungannya ini Awi mampu membiayai hidup dan pendidikannya sendiri, tanpa memberatkan orang tuanya sedikitpun.
Ada pemandangan menarik di tengah-tengah riuhnya perhelatan wisuda periode II yang digelar Sabtu lalu di Sportorium UMY. Awi berada di tengah kerumunan orang-orang yang menghadiri acara tersebut. Rupanya ia membawa dagangan gorengan berikut pikulannya dengan mengenakan toga.  

Awi pernah bernazar, jika lulus nanti ia akan pakai toga dengan membawa dagangan ke kampus. Setelah apa yang diusakannya tersebut berbuah hasil manis, berhasil lulus dan mendapat gelar sarjana, Awi pun nggak tanggung-tanggung membawa dagangannya tersebut untuk memenuhi janjinya. Uniknya, dagangan itu bukan lagi dijual seperti hari-hari biasanya, namun dibagikan kepada orang-orang yang datang di acara wisuda, baik mahasiswa, orang tua mahasiswa, petugas satpam hingga tukang parkir. Awi ingin menunjukkan ke banyak orang bahwa penjual gorengan juga bisa membiayai kebutuhan hidup dan menyelesaikan kuliah. Sama seperti mahasiswa lain yang nasibnya lebih baik dari dirinya.
Beberapa kali Awi disarankan untuk mengikuti program beasiswa dengan mengajukan surat keterangan tidak mampu. Namun, Awi selalu menolak dengan cara halus karena ia merasa masih mampu membiayai hidup dan membayar kuliah. Baginya, beasiswa tersebut akan lebih layak untuk diberikan kepada orang-orang yang lebih berhak, mereka yang lebih kurang beruntung dari dirinya. Prinsip inilah yang ia pegang hingga akhirnya mampu membawanya menjadi seorang sarjana.
Meraih gelar menjadi seorang Sarjana Ekonomi bukan menjadi titik akhir pencapaian Awi. Di tengah kehidupan dan keluarganya yang kurang berkecukupan, ia masih punya semangat tinggi untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Bahkan melanjutkan S2 ke luar negeri. Selain itu, Awi juga ingin menjadi pengusaha dan membuka perusahaan sendiri.
Untuk mewujudkan impiannya tersebut, Awi berencana akan pulang kampung sambil mencari pekerjaan di samping berjualan gorengan untuk modal kuliah. Ia juga tengah berusaha dengan mencari informasi untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Menjadi seorang penjual gorengan keliling nggak menjadi halangan untuknya bisa mewujudkan cita-citanya sebagai seorang pengusaha sukses dan berpendidikan tinggi.
Kisah Asnawi mengingatkan kita bahwa untuk bisa mewujudkan suatu keinginan, diperlukan pengorbanan besar yang disertai kesungguhan dan semangat pantang menyerah. Kalau Asnawi saja rela berjualan gorengan demi bisa menyelesaikan kuliahnya, kamu yang masih minta jatah orang tua, apa kabar skripsinya?


Pakar IT Bongkar Cara yang Dilakukan Para Penyerang Web KPU

Pakar IT Bongkar Cara yang Dilakukan Para Penyerang Web KPU

Pakar IT yang juga merupakan Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi atau Communication and Information System Security Research Centre (CISSReC) Pratama mengungkapkan bahwa serangan yang membuat down server KPU beberapa waktu kemarin kemungkinan besar adalah serangan dengan menggunakan DDoS (Distributed Denial of Service).

Sistem Zombie ini merupakan serangan dengan menggunakan ribuan bahkan jutaan zombie system yang mengirimkan paket data secara berulang-ulang sehingga sumber daya komputer atau sistem yang diserang tidak berfungsi.

"Saat server down, praktis sebenarnya tidak ada yang bisa mengubah data, kecuali mempunyai akses fisik langsung terhadap server," ujar Pratama.

Lebih lanjt Pratama menjelaskan bahwa saat menggunakan TOR browser, situs web KPU masih bisa diakses. TOR browser ini bisanya digunakan oleh peretas untuk menyamarkan dirinya di internet. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada filtering terhadap siapa saja untuk mengakses dan menyerang KPU.

"Seharusnya KPU dari awal mem-block IP yang berpotensi digunakan oleh peretas untuk mengakses KPU," saran Pratama.

Menurut Pratama, seharusnya pihak KPU sudah melakukan block terhadap tor-exit node yang terdapat dalam

Pratama juga menghimbau masyarakat bisa lebih tenang dan tidak termakan oleh banyaknya broadcast yang beredar di Whatsapp maupun media sosial.

Meskipun adanya serangan terhadp sistem web KPU, Pratama tetap menekankan bahwa serangan terhadap web KPU tidak akan mengubah hasil pilkada karena setiap pasangan telah mempunyai formulir bukti penghitungan suara. [islamedia]  



Thursday, 16 February 2017

Renungan untuk Kalian Pejuang Dakwah!

Renungan untuk Kalian Pejuang Dakwah!

  
Sahabatku, bagaimana aktivitas dakwahmu hari ini?
Semoga Allah terus memberikan kebaikan untuk kita semua
Agar terus kuat menyusuri jalan dakwah ini

Walaupun cacian, makian, ancaman dan godaan terus mewarnai jalan ini
Terkadang lelah dan jenuh pun
Menghampiri perjalanan panjang ini

Tapi Sahabat, layakkah kita mengeluh?
Dalam perjalanan dakwah ini
Kawan, ada tidaknya kita dalam perjuangan ini
Dakwah ini akan tetap berlanjut
Namun, tidakkah syurga-Nya begitu menggiurkan untukmu?

Teruslah berjuang, Kawan!