Friday, 12 May 2017

Antara Kita dan Lilin

Antara Kita dan Lilin

Perayaan ibadah dalam agama Nasrani –salah satunya Natal- bukan hanya identik dengan pohon cemara, lonceng dan Sinterklas. Natal akan semakin syahdu jika ditambah lilin yang biasa digunakan dalam setiap ritual ibadah. Bagaimana sejarahnya lilin bisa menjadi bagian dalam perayaan Natal?
Mengutip tulisan Ben Taylor dalam situs swide, lilin memang telah lama digunakan dalam setiap ritual ibadah kaum Nasrani. Penelusuran soal itu berujung pada sebuah festival Romawi kuno bernama Saturnalia. Festival itu biasanya dilakukan setiap tanggal 17 Desember menurut penanggalan Julian.
Pada hari itu seluruh orang libur dan perayaan diawali dengan pengorbanan di Kuil Saturnus. Ada pula perjamuan publik, dan diakhiri dengan tukar kado. Setelah itu usai, masih ada acara lanjutan berupa pesta pora. Dalam pesta, segala aturan disingkirkan dan judi diperbolehkan. Pesta itu berlangsung sampai 23 Desember. Di dalamnya, digunakan lilin. Macrobius, salah satu sumber sejarah menyebut, Saturnalia adalah festival cahaya. Itu dilakukan untuk mengantarkan masyarakat Romawi ke musim dingin.
Menurut anggapan mereka, itu adalah musim saat matahari ada di jarak terjauh dengan bumi. Matahari direpresentasikan dengan cahaya lilin. Lilin juga dijadikan simbol untuk pengetahuan dan kejujuran. Ritual itu dilakukan bertahun-tahun, dan terbawa sampai masa Kristen tiba.
Ritual yang mirip, juga terjadi di Persia. Konon, masyarakat di sana percaya bahwa 25 Desember adalah hari pengorbanan di mana Dewa Matahari dilahirkan. Mereka memperingatinya sebagai keberuntungan di masa-masa yang dipenuhi kegelapan. Lilin dinyalakan sebagai penghormatan untuk dewa mereka. Mereka berkumpul bersama-sama dalam suatu tempat kemudian menyalakan lilin bersamaan dalam jumlah banyak.
Saat agama Kristen menyebar, beberapa simbolisasi dari ritual-ritual yang disebut di atas diserap. Salah satunya, penggunaan lilin. Di abad pertengahan, sebuah lilin besar dinyalakan sebagai representasi Bintang Bethlehem. Mereka juga meletakkan lilin pada pohon Natal, sebagai penunjuk jalan bagi tiga orang bijaksana untuk menemukan tujuannya.
Legenda lilin tak cukup sampai di situ. Simbolisasinya masih digunakan sampai kini, dan berfungsi macam-macam. Lilin yang diletakkan di tepi jendela, mengindikasikan tempat yang aman bagi pendeta untuk berceramah pada jemaah di Irlandia. Di Inggris, lilin biasa dibawa oleh para penyanyi gereja sebagai simbol atas Kristus. Tradisi itu juga menyebar ke seluruh dunia. Kini, ada banyak festival agama Nasrani yangmenggunakan lilin sebagai atribut dalam ritual ibadahnya

Ajaran Kristen Tentang Lilin
Lilin dan agama Nasrani sudah merupakan satu kesatuan yang sukar bisa dipisah lagi. Rasanya kalau kita merayakan Natal tanpa adanya lilin berarti ada sesuatu yang kurang. Maka tidaklah heran apabila omset penjualan lilin di Eropa 45% dilakukan pada saat menjelang Natal.
Bagi umat Kristen, lilin merupakan simbol dari kelahiran Yesus yang membawakan terang ke dalam dunia ini. Umat Kristen sering menyalakan lilin sambil berdoa. Lilin yang  menyala melambangkan suatu doa yang dilakukan sekaligus dengan mempersembahkan doa dan menerima kehendak Tuhan.

Orang Islam Jangan Ikut-ikutan
Rasulullah telah mewanti-wanti ummatnya agar tidak terjerumus mengikuti adat kebiasaan kaum kafir. Dalam beberapa nash hadits telah dijelaskan sebagai berikut :
Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim).
Imam Nawawi –rahimahullah– ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziroo’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashrani. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”  (Syarh Muslim, 16: 219)

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad

Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Jika dalam perkara adat (kebiasaan) saja kita dilarang tasyabuh dengan mereka, bagaimana lagi dalam perkara yang lebih dari itu?!” (Majmu’ Al Fatawa, 25: 332)

Maka dari itu, di sini Penulis mengajak kepada seluruh saudaraku seiman untuk menjauhi budaya tasyabuh ini. Karena bagaimanapun Nabi kita telah mengingatkan akan bahaya tasyabuh. Sebagai seorang Muslim akan lebih bijak jika kita mengikuti dan bangga dengan identitas seorang Muslim, bukan malah meniru budaya kaum kafir.
Berbagai acara menyalakan lilin yang akhir-akhir ini marak digelar di berbagai kota tidak lain sangat mirip sekali dengan ritual ibadah yang biasa dilakukan kaum Nasrani. Berkumpul di suatu tempat pada malam hari, lalu bersama-sama menyalakan lilin. Kita harus menyadari ini adalah bagian dari ‘skenario’ musuh-musuh Islam menyerang generasi Islam melalui ghazwul fikr (perang pemikiran).
Meskipun diberi kedok cinta NKRI, toh tidak ada sejarahnya para pahlawan dahulu menyalakan lilin sebagai bukti cinta mereka pada tanah air. Justru melindungi orang yang jelas-jelas telah melanggar hukum dan menista agama itulah yang membuat NKRI kita terkoyak.  





Monday, 8 May 2017

HTI ‘Dibubarkan’ Jelang Vonis Ahok, Umat Dihimbau Tetap Kawal Sidang Ahok

HTI ‘Dibubarkan’ Jelang Vonis Ahok, Umat Dihimbau Tetap Kawal Sidang Ahok

Jumpa pers pemerintah terkait ‘pembubaran’ ormas Islam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) disampaikan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam), Wiranto, di Jakarta, Senin (08/05/2017).
Artinya, disampaikan sehari jelang sidang lanjutan kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) besok. Sidang kasus Ahok dijadwalkan digelar Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Selasa (09/05/2017), di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, dengan agenda pembacaan vonis majelis hakim atas Ahok.
Sejumlah pihak menghimbau masyarakat -khususnya umat Islam- agar tetap fokus mengawal jalannya proses hukum kasus Ahok, khususnya sidang vonis besok. “Fokus kawal sidang Ahok,” imbau salah satu pihak pelapor kasus Ahok diwakili Pedri Kasman beberapa waktu usai pernyataan pers Menkopolhukam terkait pembubaran HTI.
Jangan sampai kasus (‘pembubaran’) HTI mengalihkan perhatian publik,” lanjutnya.
Ia mengatakan, kasus penistaan agama oleh terdakwa Ahok adalah kasus besar yang sangat terkait dengan keutuhan bangsa ini ke depan. “Sangat mungkin banyak pihak yang berkepentingan mengalihkan perhatian masyarakat,” ujar Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah ini.
Sementara itu, Ketua Umum Syabab Hidayatullah Suhardi meyakini umat Islam akan tetap mengawal berjalannya sidang vonis Ahok besok. “Kalau pun ada semacam mengalihkan vonis Ahok besok atas pembubaran HTI, saya rasa masyarakat tidak akan terpengaruh,” ujar Suhardi saat diminta tanggapannya.
Sebab, kata Suhardi, kasus penistaan agama dengan terdakwa Ahok telah dikawal sedemikian kuat oleh masyarakat dan umat Islam. “Sehingga masyarakat tidak mungkin berubah fokus hukum penista agama,” ujar aktivis yang bersama ormas kepemudaannya itu rutin mengikuti aksi-aksi menuntut keadilan hukum atas Ahok selama ini.[http://m.hidayatullah.com]
Bener kan .. Setelah HTI Pemerintah Bakal Kaji Ormas Lain

Bener kan .. Setelah HTI Pemerintah Bakal Kaji Ormas Lain

Setelah mengeluarkan keputusan pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), pemerintah akan terus melakukan kajian kepada ormas-ormas yang dinilai mengganggu keamanan dan mengancam eksistensi Indonesia. Termasuk mengkaji Front Pembela Islam (FPI).
Menkopolhukam Wiranto menegaskan pemerintah tak segan-segan melakukan langkah hukum kepada ormas-ormas tersebut. "Yang lain terus dipelajari, lewat lembaga peradilan, dan nanti terus dipelajari. Jadi satu-satu dulu," kata Wiranto.
Sebelumnya, Menkopolhukam telah mengeluarkan keputusan rencana pembubaran HTI. Pemerintah menilai aktivis HTI memicu keamanan nasional serta keutuhan NKRI karena menolak Pancasila. [dakwahmedia]
Wawancara dengan Ust.Fahmi Salim Terkait Pembubaran HTI

Wawancara dengan Ust.Fahmi Salim Terkait Pembubaran HTI

Senin, 8 Mei 2017, pemerintah melalui Menko Polhukam, Wiranto mengumumkan pelarangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan alasan organisasi yang gencar mewacanakan pentingnya khilafah internasional untuk menyatukan umat Islam dianggap melahirkan ‘benturan di masyarakat yang dapat mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat, serta membahayakan keutuhan NKRI’.
Hidayatullah.com mewawancarai Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat periode 2015-2020 yang juga Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah 2015-2020. Inilah hasilnya.
Pemerintah baru saja mengumumkan pembubaran HTI, pendapat Anda?
Saya tidak setuju dengan Menkopolhukam yang membubarkan ormas yang seharusnya sesuai Undang-Undang harus lewat putusan pengadilan, bukan dengan model pernyataan pers.
Maksudnya?                     
Pembubaran ormas harus dengan pembuktian fakta hukum di pengadilan bukan dengan opini publik yang dikembangkan sepihak.
Bagaimana tanggapan Anda sendiri terkait wacana khilafah ini?
Secara substansi kita harus mendukung keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU) yang memutuskan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila  sesuai kondisi Indonesia.
Namun pemerintah dan seluruh komponen bangsa harus menjamin pelaksanaan Pancasila yang benar melahirkan kesejahteraan lahir batin warganya sesuai dengan nilai luhur agama, bukan yang sudah  direduksi diselewengkan dengan menerapkan neolib ekonomi politik dan social budaya (Sosbud). Bisa dijelaskan?
Tuntutan dan gagasan mencari alternatif selain NKRI dan Pancasila hanya akan muncul di tengah ketimpangan sosial, ketidakadilan ekonomi, tidak terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Selama ini ide HTI kan masih taraf gagasan, apakah tepat langsung dibubarkan?
Jika ingin bersikap tegas dengan organisasi yang berorientasi transnasional, tidak boleh tebang piling HTI saja, ini dzolim namanya. Jadi harus juga diterapkan kepada ormas yang jelas-jelas transnasional yang mereka komandonya menginduk kepada negara luar, yang tunduk pada otoritas keagaman dan politik yang bersifat pada totaliter.

Bisa diberi contoh?
Misalnya organ-organ komunisme yang ditengarai yang bangkit, juga organ-organ Syiah di Indonesia yang menginduk pada gerakan transnasional (tunduk Syiah Iran).
Apa bahayanya ideologi Syiah bagi NKRI?
Mereka memiliki konsep imamah, konsep politik yang menyatukan agama dan negara yang dikontrol dari luar negeri (Iran, red). Dan untuk mengabdi pada kepentiangan Syiah-Iran. Jika perlu ini harus ditertibkan karena mereka juga memiliki konsep imamah internasional seperti halnya HTI selama ini mewacana konsep khilafah internasional. Syiah ini malah lebih berbahaya, malah mengancam sendi-sendi bernegara, karena konsep politiknya totaliter. Dimana menyatukan agama dan negara dibawah kendali imam yang terpusat kekuasaannya di Iran. Syiah mengancam akidah ahlusunnah wal jamaah di Indonesia yang dihuni mayoritas penduduk Indonesia.

Separah apa bahaya Syiah bagi NKRI?
Dengan ideology imamahnya yang dikontrol Iran, Syiah banyak mengangkat senjata dan melakukan pemberontakan di mana-mana. Dari Iraq, Libanon, Yaman sampai Bahrain.
Di Bahrain, tokoh Syiah yang juga peminpin Partai Al-Wafa’a Islam,  Murtadha Al-Sanadi mengajak rakyat melawan negara dan mendorong anak-anak muda Syiah Bahrain untuk terus menyerang aparat keamanan, dan mengangkat senjata melawan pemerintah.
Pemberontakan di Arab Saudi membuat tokoh Syiah Syekh Nimr dihukum mati karena dianggap menghasut rakyat melawan pemerintah Saudi. Syiah menimbulkan keresahan di mana-mana, termasuk di Nigeria dimana bentrok antara militer Negara dengan milisi Syiah. Jangan lupa di Filipina,  kasus penembakan terhadap rombongan Syekih Aid Al Qarny. Di Bogor aktivis Syiah melakukan penyerangan terhadap Azzikra Sentul, yang dipimpin Ustad Arifin Ilham, dll.
*
[hidayatullah.com]

Fahmi Salim :
- Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat 2015-2020
- Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah 2015-2020
- Dosen Fakultas Agama Islam UHAMKA

Thursday, 4 May 2017

Ummat Islam dan IAIN Solo Sepakat Larang Haidar Bagir

Ummat Islam dan IAIN Solo Sepakat Larang Haidar Bagir

Tersebarnya pamflet kajian bedah buku “Islam Tuhan Islam Manusia” tulisan Haidar Bagir, yang rencananya akan digelar di Graha IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Surakarta, Pucangan, Kartasuro, Sukoharjo, dengan tegas ditolak umat Islam Soloraya.
Mewakili umat Islam Soloraya, Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Cabang Kartasuro melakukan audiensi di kantor Rektorat IAIN Surakarta, Rabu (03/05).
Ketua Divisi Kominfo ANNAS Soloraya, Umair Khaz mempertanyakan kedatangan Haidar Bagir. ANNAS khawatir jika acara tersebut tetap digelar akan ada gerakan massa yang dapat menimbulkan gesekan. Untuk itu dirinya berharap acara tersebut dibatalkan atau minimal diganti pembicaranya sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Faktornya karena tokoh yang dihadirkan adalah Syiah. Jadi kami tidak bertanggung jawab jika ada pergerakan massa. Justru kedatangan kami ini mencegah adanya gesekan yang bisa timbul,” kata Umair.
Menanggapi hal itu, Rektor IAIN Surakarta, Mudhofir Abdullah meminta diberikan solusi sebagai alasan pembatalan. Dia beralasan acara tersebut bukan IAIN yang mengadakan melainkan dari DEMA IAIN Surakarta (Dewan Eksekutif Mahasiswa).
Kalau saya memberhentikan saya dikutuk banyak orang. Karena saya pejabat publik harus mempertimbangkan. Ini kegiatan dewan eksekutif mahasiswa bersama Mizan sebagai penerbit. Jadi sama sekali bukan sama IAIN,” tegasnya.
Hampir sekitar 30 menit berlalu, disepakati bahwa acara tersebut tetap diselenggarakan dengan syarat Haidar Bagir dilarang datang ke Solo untuk mengisi kajian tersebut. Usai kesepakatan tersebut disetujui pihak Rektorat, salah satu anggota ANNAS yang ikut audiensi segera menyebar hasil kesepakatan tersebut melalui media sosial.
Sementara itu, mewakili Muhammadiyah, Jayendra mengaku sudah mengajukan keberatan atas kehadiran Haidar Bagir sebagai tokoh yang diindikasi kuat Syiah datang ke Solo. “Kami PDM Muhammadiyah Solo sudah melayangkan surat keberatan ke MUI (Majelis Ulama Indonesia) Solo, tentang keberatan acara ini. Secara tertulis akan segera kita layangkan. Kami jelas keberatan tokoh Syiah Haidar Bagir datang ke Solo. Saya kira dengan adanya kedatangan aparat sudah mengendus akan adanya efek yang akan ditimbulkan,” ujar Jayendra mewakili Muhammadiyah. (panjimas.com)